Stop being the product.
Become the owner.
or
sign uplog in
-English-
From Wikipedia, the free encyclopedia
For the Dutch-language song, see "Hallo Bandoeng".

"Hello, Hello Bandung"
Song by Ismail Marzuki Recorded1940
Genre: Mars
Composer: Ismail Marzuki "Halo, Halo Bandung" is one of the Indonesian struggle songs created by Ismail Marzuki which describes the spirit of the struggle of the people of the city of Bandung in the post-independence period in 1946, especially in the Bandung Lautan Api event which occurred on March 23, 1946.

Controversy
This song was used by a Malay-language children's youtube account titled "Nasyid Kanak-Kanak Islam Malaysia. Hello Kuala Lumpur. Malaysia's Patriotic Song".
"Hello Hello Bandung" changed to "Hello Kuala Lumpur"
"Capital of Periangan" changed to "Capital of Keriangan"
"It's been a long time Beta" becomes "It's been a long time Me"
"Now it has become a sea of fire" becomes "Now it has advanced".

Background.
Main article: Bandung Lautan Api
Ismail Marzuki performed with the keroncong group Lief Java around 1940 as a singer and songwriter at Studio Orkes NIROM II in Tegalega, Bandung, as part of NIROM ( Nederlandsch-Indische Radio-omroepmaatschappij ) radio broadcasts.
Ismail Marzuki returned to Batavia after marrying his fellow singer in the group, Eulis Zuraidah. But the fond memories of his stay in Bandung always lingered in his memory. This prompted him to compose a song in Sundanese entitled "Hallo Bandung", as well as several songs with similar themes such as "South Bandung at Night" and "Saputangan dari Bandung Selatan". At that time the phrase "Hallo Bandoeng" was already well known as a call sign and opening greeting by Radio Kootwijk when making telegraphic radio calls with the city of Bandung. The phrase became even more famous through the Dutch-language song "Hallo Bandoeng" by Willy Derby, which sold more than 50,000 copies, a remarkable amount in those days.
Early versions of the lyrics of the song "Hallo Bandung" suggest that it was originally born as a sentimental expression of homesickness, not intended as a fight song. Later, during the Japanese occupation, the song was translated into Indonesian as part of the Japanese army's propaganda, which, among other things, sought to erode the influence of Dutch culture and encourage the use of Indonesian throughout the colony. However, the second version of the song still reflects its original intent as a song of remembrance.
After the Japanese declaration of defeat, the Indonesian freedom fighters then faced the influx of soldiers
Dutch NICA and Allied troops from the United Kingdom, which lasted for four years. This period is known as the National Revolution period. At the beginning of this period Ismail Marzuki and his wife fled to Bandung to avoid the occupation of British and Dutch soldiers in Jakarta. Unfortunately, not long after they settled in Bandung, an ultimatum was issued by the British ordering the Indonesian fighters to leave the city immediately. Then the Indonesian fighters retaliated by deliberately burning buildings and structures throughout the southern area of Bandung before they left the city on March 24, 1946, which became known as Bandung Lautan Api. This event inspired Ismail Marzuki and the Indonesian fighters at that time to change the last two lines of the lyrics of the song "Hallo Bandung" to be more patriotic and burning. Soon after, the song "Halo, Halo Bandung" became widely recognized and became one of the symbols of Indonesia's independence struggle against the colonizers.

-Indonesia-
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Untuk lagu berbahasa Belanda, lihat "Hallo Bandoeng".

"Halo, Halo Bandung
Lagu oleh Ismail Marzuki Direkam1940
Genre : Mars
Pencipta : Ismail Marzuki "Halo, Halo Bandung" adalah salah satu lagu perjuangan Indonesia ciptaan Ismail Marzuki yang menggambarkan semangat perjuangan rakyat kota Bandung dalam masa pascakemerdekaan pada tahun 1946, khususnya dalam peristiwa Bandung Lautan Api yang terjadi pada tanggal 23 Maret 1946

Kontroversi
Lagu ini digunakan oleh akun youtube anak-anak berbahasa Melayu dengan judul "Nasyid Kanak-Kanak Islam Malaysia. Helo Kuala Lumpur. Lagu Patriotik Malaysia”.
”Halo Halo Bandung” diubah menjadi “Hello Kuala Lumpur”
”Ibu kota Periangan” diubah menjadi “Ibu kota Keriangan”
”Sudah lama Beta” menjadi “Sudah lama Aku”
”Sekarang telah menjadi lautan api” menjadi “Sekarang sudah semakin maju”.

Latar belakang
Artikel utama: Bandung Lautan Api
Ismail Marzuki tampil bersama grup keroncong Lief Java pada sekitar tahun 1940 sebagai penyanyi dan penulis lagu di Studio Orkes NIROM II di Tegalega, Bandung, sebagai bagian dari siaran radio NIROM (Nederlandsch-Indische Radio-omroepmaatschappij).
Ismail Marzuki kembali ke kota Batavia setelah menikahi rekan sesama penyanyi di grup, Eulis Zuraidah. Namun kenangan indah selama menetap di kota Bandung selalu melekat dalam ingatannya. Hal tersebut mendorongnya untuk menciptakan lagu berbahasa sunda berjudul "Hallo Bandung", serta beberapa lagu bertema serupa seperti "Bandung Selatan di Waktu Malam" dan "Saputangan dari Bandung Selatan". Pada waktu itu ungkapan "Hallo Bandoeng" sudah sangat dikenal sebagai tanda panggil dan sapaan pembuka oleh Radio Kootwijk saat melakukan panggilan radio telegraf dengan kota Bandung. Ungkapan tersebut menjadi semakin terkenal melalui lagu berbahasa Belanda berjudul "Hallo Bandoeng" oleh Willy Derby, yang penjualannya mencapai lebih dari 50.000 kopi, suatu jumlah yang luar biasa pada zaman itu.
Versi awal dari lirik lagu "Hallo Bandung" menunjukkan bahwa pada awalnya lagu ini lahir sebagai ungkapan rasa rindu yang sentimental, bukan dimaksudkan sebagai lagu perjuangan. Kemudian selama masa pendudukan Jepang lagu ini diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sebagai bagian dari propaganda pihak tentara Jepang, yang antara lain berusaha mengikis pengaruh budaya Belanda serta mendorong penggunaan bahasa Indonesia di penjuru wilayah jajahan. Walaupun begitu, versi kedua hasi terjemahan lagu tersebut tetap menggambarkan maksud aslinya sebagai lagu kenangan.
Setelah pernyataan kekalahan Jepang, para pejuang kemerdekaan Indonesia kemudian menghadapi masuknya tentara
NICA Belanda serta tentara Sekutu dari Kerajaan Inggris, yang berlangsung hingga selama empat tahun. Masa ini dikenal sebagai periode Revolusi Nasional. Pada awal masa ini Ismail Marzuki bersama istri mengungsi ke Bandung demi menghindari pendudukan tentara Inggris dan Belanda di Jakarta. Namun sayang tidak lama setelah mereka menetap di Bandung, terbit ultimatum dari pihak Inggris yang memerintahkan pihak tentara pejuang Indonesia untuk segera meninggalkan kota. Kemudian pihak pejuang Indonesia membalas dengan sengaja membakar bangunan dan gedung di penjuru wilayah selatan kota Bandung sebelum mereka meninggalkan kota pada 24 Maret 1946, yang kemudian dikenal sebagai Bandung Lautan Api . Peristiwa ini mengilhami Ismail Marzuki beserta para pejuang Indonesia saat itu untuk mengubah dua baris terakhir dari lirik lagu "Hallo Bandung" menjadi lebih patriotis dan membakar semangat perjuangan. Segera setelah itu, lagu "Halo, Halo Bandung" menjadi sangat dikenal dan menjadi salah satu lambang perjuangan kemerdekaan Indonesia melawan penjajah.
#tangled #tangled_indonesia #indonesia #sejarah #merdeka
preview
loved
7
shocked
2
earnings
131,000 mlx total
$0  total
engagement
153 views
11 reactions
0 comments